Thursday, October 14, 2004

Post power syndrom

Akhir-akhir ini dimilis ikom 2000, banyak posting tentang pendadaran dan berbagai romantika seputar itu. semisal seorang rekan 2000 yang posting bahwa ada perasaan aneh selepas lulus ujian pendadaran. konon rasanya plong bebas dari skripsi ini tapi juga ada rasa takut2 untuk maju ke depan.

Dalam kerangka yang lebih umum, seorang aktivis mahasiswa bisa seorang ketua himakom, ketua panitia atau ketua departement dalam unit kegiatan mahasiswa sering kali mengalami perasaan aneh ini paska kegiatan berorganisasinya.

Kok rasanya aneh yah, setelah nganggur ga ada aktivitas dikampus...jadi hambar begitu penuturan seorang rekan. Atau akhirnya bisa bebas, dari semua ini...tapi kok tetep ga tenang yah dan bermacam komentar lain yang justru kontradiktif dengan keadaaan yang ada. Harusnya kita happy khan, kok malah jadi tegang gini

Ada bbrp skenario yang mungkin terjadi sehubungan dengan hal ini:
1. Kita memang bener2 sekuat tenaga untuk melewati hal ini, bisa skripsi atau amanah yang kita emban. Dan ternyata setelah kita menyelesaikannya orang tidak memberikan pengakuan apa-apa yang terukur. Orang hanya mengucapakan selamat ya udah skripsi. Tanpa mau perduli lebih jauh dengan apa yang kita kerjakan.

2. Kita memang sudah letih, karena semua energi kita sudah dicurahkan untuk ini, dan memang kita
tidak begitu perduli dengan komentar orang lain. Mungkin yang terjadi adalah ketidak singkronan antara tubuh kita dan perasaan kita. Tubuh dan otak kita sudah letih namun perasaan kita menolak untuk itu karena kita sadar ada tantangan yang jauh lebih berat didepan. Akibatnya muncul perasaan aneh dari bawah sadar itu.

dan mungkin ada bbrp skenario lain yang bisa dijelaskan.

yang ingin saya sharing disini, perasaan aneh dan ga enak ini adalah sesuatu yang wajar terjadi. Dan tentunya bisa negatif kalau tidak ditindak lanjuti, beberapa orang yang memang sudah overload mungkin butuh liburan, kalau yang dibutuhkan penghargaan mungkin dia perlu curhat, kalau yang dia perlukan tantangan maka dia perlu mencari tantangan baru.

Dan akhirnya dengan sedikit nada sombong :) mungkin orang lain akan menganggap remeh sesuatu atau apapun yang telah kita kerjakan, tapi jangan salah, banyak juga orang yang diam-diam terkagum-kagum dengan apa yang telah kita lakukan. So tetap bersemangat dalam berkarya. Sukses untuk yang sudah pendadaran n welcome to the world!

Friday, October 08, 2004

man on top

Kalau saya lihat temen-temen yang di militer, kelihatannya jalan hidupnya lurus-lurus aja, minimal pangkat letkol/kolonel pasti dapet, selebihnya tergantung kerja keras. Dan tentunya tidak melupakan skenario dari Yang diatas. Buat saya militer menawarkan kesempatan dan jenjang karir yang lebih jelas, walaupun hal ini dibayar dengan resiko 'nyawa' dan 'belengu' sistem.

Dan juga cukup jelas terlihat peta karir seperti kecabangan Infantri, kesatuan Kostrad/Kopassus, Kodam Brawijaya/Jaya yang merupakan step-step yang lebih memungkinkan karir lebih baik. Walaupun tidak menutup kemungkinan
orang zeni seperti Try Sutrisno untuk stay on top.

Lalu bagaimana dengan sipil? yang saya pernah dengar, sebagian besar top management astra memulai karirnya sebagai account executive/sales, jelas karena core-nya juga trading. Dan untuk perbankan start di marketing merupakan start yang baik untuk menuju top level.

Saya percaya bahwa rezeki itu sudah ada yang mengatur, tapi saya juga melihat banyak skenario di dunia industri yang membuat orang-orang ga berkembang. Misalnya karyawan yang bekerja di line yang rata-rata STM hingga kapanpun dia tidak akan bisa naik pangkat, pun misalnya dia mengambil S1, kecuali dia keluar dulu dan mencoba masuk kembali dengan bekal S1nya

Atau dalam level staf misalnya, staff Produksi, IT, Finance, HR adalah starting point yang kurang baik dibandingkan dengan orang sales/marketing yang profit making, bandingkan dengan orang IT yang cost center.

Saya pernah KP di kantor pusat BRI, waktu itu ada pergantian manager IT, perkiraan saya yang jadi manager IT adalah orang IT yang merangkak dari bawah, tapi ternyata tidak. Yang jadi manager IT justru dari banker dengan pertimbangan di pernah berpengalaman di berbagai kantor cabang sehingga lebih menguasai persoalan dilapangan. brarti orang IT kan stay on ground?

Begini, kalau saya bermimpi jadi man on top, jadi CEO misalnya, sebenarnya jalur manakah yang harus saya ambil, Saya kira latar belakang pendidikan tidaklah terlalu penting dibanding kesungguhan seseorang untuk belajar pada industrinya. Dan jalur karir seperti apakah yang memberi banyak kesempatan bagi kita untuk berkembang?

Catatan:
Pertanyaan ini bisa bubar kalau disanggah dengan, ya udah buka aja bisnis sendiri. Saya ingin mencoba menyelami jalan pikiran orang-orang yang fight dari bawah untuk bisa stay on top dalam management perusahaan raksasa misalnya.

Anjar Priandoyo
~sedang mencoba memahami dunia barunya~

Thursday, October 07, 2004

Tips perjalanan Jogja Jakarta

Mendapat panggilan test kerja/wawancara dari Jakarta adalah hal yang tidak bisa dihindari untuk job seeker dari jogja. Menyikapi hal-hal ini memang gampang-gampang sulit karena seringkali kita blank sama sekali tentang lokasi perusahaan dan dimana kita bisa tinggal, terkecuali ada saudara / tebengan lain.

Ada beberapa tips yang bisa dilakukan:
1. Usahakan untuk mengulur waktu yang tepat, biasanya perusahaan akan meminta waktu test yang tidak terduga-duga. kalau kita dihubungi via telepon, ajukan tanggal yang tepat, mungkin bisa dengan alasan jogja cukup jauh, atau alasan yang lain. Pintar2 lah negoisasi, pengalaman biasanya jobseeker terlalu bahagia mendapat panggilan sehingga telp, alamat dan informasi penting lainnya malah terlupakan.

2. Pastikan kita mengetahui lokasi test dengan tepat:
Bisa di liat di www.cybermap.co.id yang bisa search hingga nama gedung, atau liat peta Gunther W. Holtrof yang juga sangat lengkap.

3. Transportasi yang efektif
Ada beberapa skenario perjalanan yang bisa dilakukan, namun kelihatannya yang paling aman adalah kereta. Namun kelemahannya adalah jadwalnya yang sudah pasti. Ini skenario pertama:

I. Kalau kita diminta test pada hari selasa, maka berangkatlah dari Jogja hari senin sore, bisa menggunakan kreta api Progo sekitar 34.000, brangkat 17.00 dan sampai skitar 04.00 di Stasiun Senen. Senen terletak di Jakarta Pusat sehingga cukup mudah untuk pergi keberbagai lokasi lain. Kalau punya duit silahkan naik bisnis.

Sesampai distasiun senen kita bisa sholat, istirahat (tidur), mandi dan kemudian 05.30 bisa dilanjutkan perjalanan ke tempat test, alokasikan waktu sekitar 2 jam untuk perjalanan. Pengalaman penulis test umumnya dimulai pukul 9.00 dan ternyata sejak pukul 07.00 sudah banyak jobseeker yang menunggu.

Selesai test, paling sore sekitar 15.00 kita bisa langsung pulang ke stasiun senen lagi, dan menunggu kreta Progo yang datang pukul 21.00, Namun disarankan untuk naik kreta bisnis dengan pertimbangan berangkat lebih cepat 20.00 dan sampai juga lebih cepat.

Dengan ini kita sama sekali tidak perlu menginap di Jakarta. Namun perlu diingat bahwa saat itu kondisi kita sangat lelah, sehingga resiko semakin tinggi, kehilangan HP, kecopetan adalah sangat mungkin terjadi. Tapi jangan lupa juga, panggilan test kerja bisa lebih dari 2-3 kali, so latihan adalah kunci keberhasilan.

II. Jikalau lokasi test ternyata lebih dekat ditempuh dari stasiun Jatinegara, maka turunlah distasiun ini dan untuk mandi bisa dilakukan di Pasar Jatinegara karena kamar mandi stasiun kurang representatif.

III. Dalam kasus sangat khusus, dimana panggilan pada waktu sore hari maka alternatif lain adalah menggunakan bis dan lompat-lompat. Jogja-Purwokerto-Tegal-Cirebon-Jakarta adalah jalur yang mungkin ditempuh.

4. Bawalah barang seefektif mungkin.
Berangkatlah dengan menggunakan sandal jepit dan sepatu didalam tas, karena perjalanan 11 jam di Kereta api pasti membuat anda stress, belum lagi bayangan test yang akan dihadapi besok, sandal, kaos kaki, dan jaket bisa meredam stress anda, melindungi dari dingin, dan memberi rasa relax.

Gunakan celana jeans/tebal lainnya, dan simpan satu celana kain dalam tas anda. Karena celana tebal bisa melindungi anda dari silet dan tangan jahil copet. Dan jangan lupa bawa baju cadangan.

Intinya bawalah barang seringkas dan seefektif mungkin dan ini berpulang pada kebiasaaan kita masing-masing, kalau da yang merasa perlu membawa roti ya bawa roti, handuk, alat mandi dll.

5. Buat diri senyaman mungkin,
Kalau perlu titipkan tas yang berisi baju dan peralatan kita dengan satpam, dan berangkatlah ketempat test dengan percaya diri :) Semoga sukses

Anjar Priandoyo
~Sorry kalo udah pernah baca~

Kiat mencari makanan murah

Bagi yang pernah bekerja di pabrik atau di kompleks sekitar pabrik pemandangan karyawan yang membeli makanan pada pagi atau siang hari adalah hal yang biasa. Begitu juga dengan saya sewaktu mengawali kerja di suatu kompleks pabrik di utara jakarta.

Di sekitar pabrik nampak berjejer penjual nasi kuning mungkin disatu jalur jalan yang saya lewati saja bisa terdapat 5-6 penjual nasi, dan ini menjadi jumlah yang cukup besar mengingat dikompleks ini terdapat bbrp jalur utama.

Sebetulnya penampilan saya tidak jauh berbeda dibandingkan karyawan yang lain, hanya saja saya mengenakan kemeja bebas, sepatu semi kulit dan membawa tas jinjing. Sedangkan karyawan perusahaan umumnya mengenakan seragam biru-biru, Mungkin sekilas seperti eksekutif muda, padahal kondisi kantong tidak seperti itu.

Mulanya saya tertarik dengan sebuah warung karena warung itu sekilas kecil dan tidak terlalu ramai, hari pertama ketika saya membeli diwarung itu ibu penjual menyebut bilangan tertentu untuk nasi kuning yang saya makan dan menurut saya itu cukup murah.

Esoknya saya kembali dan ternyata ibu itu menyebut harga yang jauh lebih murah dari yang kemarin dengan service yang ajaib juga sangat baik. Hal ini membuat saya cukup heran kenapa bisa seperti itu,

Selidik punya selidik ternyata saya memang mendapatkan harga special karena saya dijadikan icon warung ibu itu. Ibu penjual itu berpikir dengan memberi harga murah pada saya maka saya akan terus datang kewarung ini, dan mungkin pikirnya reaksi orang yang melihat warung kecil ibu ini didatangi orang berpakaian perlente akan lebih laris. Ilmu marketing ternyata berlaku dimana saja.

Anjar Priandoyo
[Edisi dongeng dari Jakarta]

Wednesday, October 06, 2004

dongeng tentang jakarta I

Jakarta adalah kota impian dan harapan, konon ini yang menyebabkan banyak orang nekad datang kekota ini dengan segala keterbatasan yang dibawanya, Aku pengen mendongeng sedikit tentang kota yang oleh sebagian orang dipandang
tidak ramah.

Kesempatan pertamaku kenal Jakarta ialah saat KP di Kanpus BRI, itu di Sudirman salah satu CBD (Center Business District) di Jakarta disamping Kuningan dan (lupa pokoknya segitiga emas gitu). Bayangan biaya hidup yang
tinggi sedikit banyak terhapus saat mulai makan di Benhil (bendungan hilir) dan bbrp lokasi di belakang Sudirman,

Gengsi dan prestige bisa bekerja ditempat yang 'keren' harus dibayar juga dengan biaya kost dkk yang rata-rata berkisar >400rb dan makanan layak sekitar 7000an walau bisa lah dapet Mie Ayam 4000an. Waktu itu aku mengkalkulasi hampir 1 juta perbulan untuk biaya hidup (400 kost + 600 makan)

Saat ini aku tinggal di Sunter, konon termasuk salah satu wilayah paling keras di Jakarta, entah apakah karena wilayah industri, lokasinya di Tanjung Priok, rawan banjir dan kriminal, atau karena Penjaringan sering masuk tayangan kriminal siang di televisi.

Tapi kenyataan yang terjadi tidak semenakutkan bayangan sebelumnya, di Sunter yang kebetulan kawasan industri manufactur ini, menemukan menu sarapan pagi nasi kuning + telor + tahu cuman 2000-3000 rupiah adalah hal biasa. Bandingkan dengan di Jogja yang kalau sudah di Jakal bisa >3000. Makan siang 4000-5000an juga mudah ditemui di banyak tempat. dan kost 150.000-200.000 juga adalah hal biasa, walau dengan konsekuensi nyamuk+banjir, (tapi di astra, thanks karena mereka nyogok pintu air
sehingga banjir bisa dialihkan). So bener2 harga bisa kita tekan. Bayangkan mungkin ini hanya salah satu dari sedikit lokasi di Jakarta, dimana ojek sepeda masih efektif berjalan.

Maksud tulisan saya apa, benarlah kalau ada rekan saya di Jogja yang berasumsi bahwa standar living kost di Jakarta at least 3 x dari YK. tapi bukan berarti kita ga' bisa survive dengan gaji yang ga jauh beda dibandingkan gaji di YK. Dan untuk masalah uang, kita tidak akan pernah cukup, semakin tinggi penghasilan kita konon kebutuhan kita akan semakin
besar, jadi ini adalah art untuk saving, art untuk menghemat.

Anjar Priandoyo
~Teringat ilustrasi dari mas Endro Ikomp 89, yang mengutip kisah seorang sopir bajaj yang penghasilannya 45.000 dan menyimpan 40.000 itu tabungan. Kini sopir bajaj tersebut memiliki 30 bajaj dan 1 mercedes dirumahnya~
:::masalahnya bukan bagaimana mencari uang, tapi bagaimana menyimpannya:::